Era Digitalisasi Konstruksi (Part 1)- Tantangan

Dunia konstruksi memang selalu menarik untuk diikuti karena perkembangan teknologi konstruksi di Indonesia makin maju dan berkembang pesat khususnya di bidang digitalisasi konstruksi. Walaupun di luar Indonesia sana teknologi konstruksinya sudah masuk era digitalisasi, di Indonesia sebagian besar masih menggunakan gaya lama dalam berbisnis. Sedangkan sebagian kecil sudah mulai ikut beradaptasi dengan era digitalisasi konstruksi. Mengingat pembangunan saat ini sedang banyak di lakukan maka mau tidak mau teknologi juga harus ditingkatkan untuk mempermudah pembangunan di Indonesia dan mampu bersaing dengan negara- negara maju lainnya. Persaingan era digitalisasi konstruksi tidak hanya terjadi antar negara melainkan di dalam satu negara tepatnya bisnis ke bisnis. Munculnya fenomena persaingan gaya baru ini disebut juga era disrupsi. Lalu apa itu era disrupsi?

Era disrupsi merupakan fenomena munculnya gaya bisnis baru pada semua sektor bisnis seperti perusahaan startup yang ada di Indonesia Gojek, Grab, Tokopedia, Bukalapak dan sebagainya. Semua perusahaan tersebut berbasis internet dan big data yang terintegrasi. Orang mengenal secara umum era disrupsi ini adalah Revolusi Industri 4.0 yang selama ini digaung- gaungkan oleh seluruh dunia. Revolusi industri 4.0 mencakup perubahan teknologi pada dunia industri.

Era disrupsi ini juga akhirnya mendorong dunia konstruksi untuk memunculkan ide- ide baru dan kreatif yang dapat bersaing dengan sektor bisnis lainnya. Agar bisnis konstruksi tidak tergerus dengan bisnis gaya baru seperti perusahaan startup tadi maka muncullah sebuah era baru bernama era digitalisasi konstruksi.

Berdasarkan majalah online ekbis.sindonews.com, Direktur Utama PT. PP Tumiyana mengatakan era dsirupsi di dorong dengan adanya perkembangan dunia digital. Sektor konstruksi sudah pasti salah satu sektor yang terkena imbas dari transformasi digital.

Lalu Sudah siapkah kita dengan Era Digitalisasi Konstruksi?

Era Digital merupakan masa dimana kita harus beralih dari yang manual ke otomatis dengan menggunakan basis internet dan digital. Banyak contoh transformasi perubahan gaya bisnis baru. Sebagai contoh dulu perusahaan media massa hanya menggunakan koran dan majalah kemudian diperjualbelikan ke warga- warga. Namun sekarang konsumen kecendurangan lebih suka yang praktis menggunakan berita online. Sehingga mau tidak mau perusahaan media massa harus beralih ke portal online yang interaktif dan praktis.

Contoh lain sektor bisnis berbasis digital adalah Ojek Online. Dulu konsumen selalu menggunakan ojek pangkalan karena memang tidak ada pilihan lainnya. Namun saat ini seiring perkembangan teknologi, muncullah ojek online yang lebih praktis dan memudahkan konsumen. Benturan akibat transformasi dari era sebelumnya ke era digital tidak bisa dianggap enteng seperti benturan ojek online dengan ojek pangkalan.

Tentu kita tidak menginginkan sektor konstruksi akan bernasib sama dengan ojek pangkalan seperti contoh kasus di atas. Salah satu terobosan sektor konstruksi untuk berkembang adalah Era Digitalisasi Konstruksi. Menurut saya, digitalisasi konstruksi adalah kegiatan pembangunan konstruksi dengan menggunakan cara yang inovatif, kreatif, dapat dipahami dengan mudah oleh pengguna jasa dan mempermudah dalam pelaksanaan konstruksi serta berbasis internet dan big data yang terintegrasi menjadi satu. Salah satu penerapan digitalisasi konstruksi adalah BIM (Building Information Modelling). BIM saat ini menjadi ujung tombaknya sektor konstruksi untuk masuk era digitalisasi konstruksi. Definisi BIM bisa baca pada artikel  Pengertian BIM

Proses transformasi teknologi ke era digitalisasi memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bayangkan saja kita saat ini memiliki proyek konstruksi mulai dari sabang sampai merauke dan jumlah tenaga kerja yang tidak sedikit. Untuk memulai transformasi ke era digitalisasi tentu mereka semua harus paham terlebih dahulu apa itu era digitalisasi. Di sinilah peran- peran tenaga profesional yang paham tentang era digitalisasi konstruksi untuk mengubah pola berpikir semua pegiat konstruksi.

Menurut saya ada beberapa tantangan- tantangan yang akan mengganggu kecepatan transformasi ke era digitalisasi antara lain:

    1. Jumlah tenaga ahli yang bisa menguasai software BIM masih sedikit. 
    2. Proses belajar terkendala dukungan dari atasan atau korporasi. Seperti perahu yang sedang berlayar, perusahaan akan dibawa ke arah mana tergantung dari pemimpin perusahaan. Oleh karena itu pentingnya pemimpin yang paham sekali apa itu era digitalisasi, apa itu era disrupsi.
    3. Pengembangan dan pelatihan yang kurang intensif mengenai era digitalisasi.
    4. Menutup diri dari para kompetitor kita. Sebagai penggiat era digitalisasi konstruksi tentu harus sering melihat perkembangan-perkembangan teknologi yang sudah digunakan kompetitor- kompetitor lain.
    5. Yang terakhir ini adalah tantangan terbesar kita yaitu Pola Berpikir. Pola berpikir yang kurang mileneal. Biasanya terjadi pada tenaga- tenaga atau pimpinan yang sudah tidak muda lagi. Mereka hanya beranggapan proyek yang terpenting adalah Selesai dan Untung. Tanpa memikirkan persaingan ke depan seperti apa di era digitalisasi ini.

Oleh karena itu di era digitalisasi konstruksi ini siap tidak siap harus dipersiapkan semua agar tidak tersingkir oleh sektor- sektor baru yang lebih inovatif dan kreatif.

Sumber –> ilmuproyek.com