Hujan Ekstrem dan Banjir Banda Aceh

Dr. Yopi Ilhamsyah

Seperti diberitakan aceHTrend.com, banjir menggenangi beberapa kawasan di Banda Aceh. Catatan klimatologis kami dalam rentang 1982 hingga 2018 bersumber dari data curah hujan (CH) BMKG di Stasiun Cuaca Bandara Sultan Iskandar Muda menunjukkan bahwa bulan April-Mei termasuk satu dari dua puncak musim hujan yang berlangsung di Banda Aceh.

Catatan lawas bersumber dari CH bulanan rata-rata Verhandelingen 37, Badan Meteorologi dan Geofisika, Departemen Perhubungan RI yang dihimpun I Made Sandy dalam bukunya “Iklim Regional Indonesia” juga menyebutkan bahwa Banda Aceh dan Aceh secara umum mengalami dua puncak musim hujan yang masing-masing berlangsung pada November dan April-Mei.

Kondisi iklim di Aceh berbeda dengan Pulau Jawa yang kini mengalami pergantian musim dari hujan menuju kemarau (pancaroba). Indonesia sejatinya memiliki tiga pola pewilayahan hujan. Aceh memiliki pola khatulistiwa (ekuatorial) dengan dua puncak musim hujan sementara Jawa, Bali, Nusa Tenggara serta Sulawesi bagian selatan berpola monsunal dengan satu puncak musim hujan (Desember-Februari).

Statistik kami untuk periode November yang menjadi puncak musim hujan utama (primer), Banda Aceh menerima CH sebesar 250 milimeter (mm) sementara April-Mei, puncak hujan kedua (sekunder), CH yang jatuh setinggi 150 mm.

Catatan klimatologis digunakan untuk mengamati besar CH rata-rata sebagai acuan keadaan normal hujan di sebuah wilayah. Standar World Meteorological Organization (WMO) untuk melihat keadaan normal adalah dengan mengukur parameter iklim termasuk CH selain juga suhu udara, kelembaban, angin, evaporasi (penguapan) selama 30 tahun. Data 30 tahun ini kemudian kita rata-ratakan. Mengapa 30 tahun? Hal ini untuk mereduksi pengaruh dari siklus iklim seperti El Nino/La Nina dari Samudera Pasifik serta Indian Ocean Dipole dari Samudera Hindia.

Jika kita mendapati nilai CH yang melebihi atau kurang dari CH normal pada waktu tertentu, maka terjadi anomali yang berakibat banjir atau kering. Catatan kami dari BMKG Blang Bintang selama April 2020, Banda Aceh memperoleh CH sebanyak 277 mm. Ini berarti telah terjadi peningkatan CH yang jauh dari normal dan tentu menimbulkan banjir. Untuk minggu pertama Mei 2020 saja (data sampai tanggal 07 Mei), tinggi air hujan yang telah turun di Banda Aceh sebanyak 54 mm. Pada tanggal 07-08 Mei, CH yang turun sebesar 108 mm, artinya jika diakumulasi telah melebihi nilai rata-ratanya (normal). Tanah yang telah jenuh selama April tidak mampu lagi meresap air dan meluap.

Sebagai catatan, untuk 1 mm air hujan yang turun di Kota Banda Aceh yang memiliki luas 61,36 kilometer persegi maka akan menghasilkan volume air sebesar 61,36 juta liter. Untuk CH bernilai 277 mm maka telah turun air sebanyak 16 milyar liter air dari langit! Jumlah yang sangat masif untuk dapat ditampung seluruhnya di Kota Banda Aceh.

Ini baru berbicara hujan saja belum lagi bagaimana kapasitas sungai, apakah terjadi pendangkalan karena sedimentasi? Apakah telah mengalami penyempitan penampang akibat alih fungsi lahan? Sudahkah dinormalisasi? Bagaimana drainase? Apakah bebas dari sampah? Bagaimana kondisi tanah termasuk daerah resapan yang menjadi bagian dari ruang terbuka hijau di Banda Aceh? 30 persenkah? Bagaimana alih fungsi lahan?

Kota Banda Aceh sendiri berlokasi di hilir sungai-sungai di sekitar Aceh Besar dan Banda Aceh. Krueng Aceh, sungai utama di Aceh Besar, melintas di sepanjang lembah antara Pegunungan Bukit Barisan dan perbukitan di timur. Bagaimana kondisi hutan di daratan tinggi dan hulu sungai ini? Jika tidak memadai, tentu air hujan yang turun di punggung pegunungan akan meluncur tanpa hambatan memenuhi penampang-penampang sungai, mengakibatkan luapan di sepanjang bantaran sungai. Demikian juga drainase. Debit air yang kencang diiringi volume yang besar berakhir di hilir, berdampak tergenangnya Kota Banda Aceh.

Tolok ukur kota yang baik terindikasi dari tata kelola sistem saluran termasuk sungai dan drainase beserta ruang hijaunya. Dengan demikian, dua hal ini mutlak untuk mewujudkan kota Banda Aceh tangguh iklim. Tentu saja perilaku warga yang selalu mawas lingkungan dengan turut menjaga kebersihannya juga menjadi indikator kota yang baik.

Acapkali banjir diperparah atau bahkan diawali dari kurang tanggapnya kita akan lingkungan, sebagai contoh membuang sampah di sungai dan saluran air. Jika hujan sebentar saja akan menimbulkan genangan, konon lagi hujan berintensitas tinggi. Lantas apa penyebab hujan di April-Mei?

Hujan Muson

Kondisi ini karena pengaruh Inter-Tropical Convergence Zone atau Daerah Konvergensi Antar-Tropis (DKAT). DKAT ini sendiri muncul karena pengaruh posisi matahari. Pada Maret hingga Mei, matahari sedang bergerak menuju utara. Aceh dikelilingi lautan, penyinaran matahari yang cukup intensif dengan arah yang hampir vertikal memanaskan laut, mendorong penguapan. Citra satelit memperlihatkan anomali suhu muka laut yang memanas selama April-Mei.

Di angkasa, uap air yang naik mendingin, berubah menjadi air dan membentuk awan. Sebuah proses yang dikenal dengan kondensasi. Karena intensnya pemanasan pada permukaan laut menyebabkan laju penguapan juga tinggi. Kondisi ini mendorong uap air yang telah berkondensasi dalam jumlah besar untuk terus naik, membentuk awan Cumulonimbus (CB) di angkasa.

Sementara di permukaan, udara panas akibat hembusan panas laten saat pembentukan awan CB. Kita dapat merasakan perubahan suhu panas dan lembab mendadak ini sekaligus menjadi petunjuk bahwa hujan disertai badai besar segera tiba. Kondisi ini menciptakan tekanan rendah di permukaan.

Di belahan bumi utara, udara masih dingin selepas musim dingin, membangkitkan tekanan udara yang relatif tinggi. Sementara di Aceh, dengan kondisi yang digambarkan di atas terbentuk daerah bertekanan rendah. Akibatnya, udara melintasi Aceh dari timur laut. Pergerakan udara ini disebut angin muson (musim). Angin muson semakin menguatkan DKAT pada April hingga Mei, membawa awan CB yang menggantung di lepas pantai menuju daratan Aceh, menyebabkan hujan turun intens di seluruh Aceh pada periode ini.

Di wilayah barat, karena pengaruh rotasi Bumi, dikenal dengan efek coriolis, angin berbelok menuju pantai barat-selatan Aceh, mendorong awan CB dari Lautan Hindia memasuki wilayah ini.

Sementara di Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Sulawesi Selatan, angin muson tidak lagi dominan karena posisi matahari yang telah bergeser ke utara.

Kondisi hujan disertai angin masih akan berlangsung hingga lebaran (akhir Mei). Sementara itu, siklus iklim seperti El Nino/La Nina dan Indian Ocean Dipole menunjukkan sinyal yang lemah, artinya tidak berpengaruh terhadap hujan intens di Banda Aceh dan Aceh secara umum selama dua bulan ini. Penguatan DKAT akibat panasnya suhu muka laut dan angin muson berperan terhadap hujan ekstrem yang menimbulkan banjir di Aceh. Oleh karenanya, tetap siaga!

Penulis adalah berkhidmat di Laboratorium Meteorologi-Laut, Fakultas Kelautan dan Perikanan Unsyiah.

Sumber –> acehtrend